Kabar Nikel Menentukan Kelayakan Teknologi Smelter nikel

[Artikel] Menentukan Kelayakan Teknologi Smelter nikel

, Estimasi Baca : 3 minutes
6
Aktivitas pabrik pengolahan dan pemurnian nikel (smelter) yang dikelola PT Virtue Dragon Nickel Industry di Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (29/4/2019)/KOMPAS.ID

Oleh: (erizeli.aboutbusiness.info)

SUATU waktu ada teman datang ke saya. Dia ingin diskusi soal nikel. Karena dia punya niat berbinis tambang nikel. Saya katakan bahwa saya engga paham soal teknis pengolahan Nikel. Tetapi secara bisnis saya paham. Terutama how to make money.

“Jadi jangan ajak saya bicara soal teknis detail produksi.“ Kata saya.

Enggalah. Saya hanya mau diskusi soal aspek bisnis dalam menggunakan teknologi. Yang saya tahu kan pembuatan nickel pig iron (NPI) dengan teknologi blast furnace dilarang digunakan di China. Mengapa jusru kita mengizinkan ?.”

“Di Indonesia juga dilarang. Sama dengan China.”

“Loh apa kamu engga liat. Itu semua smelter yang ada di Sulawesi punya China menggunakan blas furnace. Udah kaya hutan tuh tanur menjulang”

“Jadi apa seharusnya ?”

“Kenapa engga pakai teknologi hydrometallurgy yang berasal dari Jepang, Eropa dan Korea. Kan tingkat polusinya rendah. Kita harus peduli soal lingkungan. Ini soal anak cucu kita” Katanya.

“Begini ya. Saya liat dari sisi bisnis aja. Setiap produksi itu harus memperhitungkan return investasi. Termasuk menentukan jenis teknologi produksi. Pertimbangan apakah layak pakai pyrometallurgy atau hydrometallurgy, itu tergantung analisa studi yang berkaitan dengan aspek teknologi dan aspek ekonomi.”

“Apa maksud kamu teknologi itu layak secara ekonomi ?”

Pertama, Blast Furnace membutuhkan listrik 50-200 MW sebagai media pengolah. Hydrometallurgy menggunakan energi diatas 500 MW. Kedua, investasi pyrometallurgy lebih rendah. Bandingkan dengan kapasitas yang sama, kalau dengan teknologi hydrometallurgy dari Eropa, atau Jepang bisa mencapai USD 1 miliar dan sementara dengan teknologi Pyrometallurgy dari China hanya USD 50 juta. Nah kalau produksi feronikel, kadar nikel di bawah 2% diatas 1,75%,  kan engga layak gunakan teknologi hydrometallurgy

“Tapi kan sumber bahan bakar kokas atau batubara. Itu sangat tidak ramah lingkungan dengan sumber emisi partikulat tinggi dan sisa bahan bakar kokas atau Batubara, itu limbah B3. Dan lagi di China sendiri udah dilarang.“

“Yang saya tahu, China melarang tanur blast furnace ukuran di bawah 500 M3, kalau itu untuk produksi Nickel Pig Iron (NPI). Tapi kalau untuk ferroalloy, ya boleh. Clear ya.?

“OK“

”Nah Smelter yang ada di Sulawesi itu kalau engga salah tanur blast furnace ukuran di bawah 500 M3 memang untuk ferroalloy. Kadar polutannya rendah. Sementara untuk Nickel Pig Iron menggunakan tanur blast furnace ukuran diatas 500 M3. Polusi juga rendah. Kita dan China sama sama peduli lingkungan. AMDAL kita malah lebih ketat. Karena melibatkan masyarakat.”

“Oh gitu masalahnya. Terus, lebih dari 50% cadangan mineral kita mempunyai kandungan Ni di bawah 1.45%. Kan kurang menguntungkan bila diolah dengan proses pyrometalurgi yang umum.“

“Benar. Tetapi sekarang sudah ada solusinya, khususnya pada bijih nikel laterit jenis limonit dan jenis saprolit”

“Gimana ?

“Memperbaiki kinerja proses leaching dengan Ammonia Ammonium Carbonate terhadap bijih nikel laterit kadar rendah yang kandungan magnesiumnya sampai 15%, yaitu dengan penambahan bahan aditif baru seperti kokas dan garam NaCl yang digabungkan dengan aditif konvensional sulfur ke dalam pellet. Memang tidak menguntungkan menggunakan proses pyrometalurgi. Harus pakai tekhnologi hydrometallurgy. Tapi produksinya bukan ferronickel atau Pig iron.“

“ Jadi Apa ?”

“Yang layak secara bisnis adalah baterai lithium, untuk baterai kendaraan listrik, yang membutuhkan nikel sulfida dan kobalt sulfida. Untuk memproduksi nikel sulfat dan kobalt sulfida, bijih nikel limonit dan saprolit harus diolah dengan sistem hydrometallurgy. Tapi investasinya sangat mahal seperti yang beroperasi di Goro, Kaledonia Baru (Perancis) dengan investasi sekitar US$5,5 miliar. Tapi nilai tambahnya juga luar biasa. itu lebih tinggi dari MIGAS.”

“Ok. Smelter punya China di Sulawesi kan lebih banyak membeli dari penambang. Kenapa harganya sangat rendah. Padahal harga ekspor tinggi.”

“Patokan harga nikel ore untuk smelter ini sesuai dengan harga internasional,  dikurangi transhipment dan pajak, sesuai dengan skema penjualan free on board (FOB). Jadi kalau harga di pasar dunia nikel ore naik, ya naik juga harga pembelian lokal, kalau turun ya turun”

“Padahal nikel ore itu kalau diolah jadi ferronickel, harganya dapat meningkat dari USD55/ton menjadi USD232/ton, atau meningkat sekitar 400%. Kan rakus amat itu smelter.”

“Ya kalau kamu pengen untung besar ya bangun smelter sendiri.  Itu namanya bisnis. Kan engga dilarang. Malah disuruh pemerintah agar pemilik tambang bangun smelter. Bahkan biar orang terpaksa bangun smelter, pemerintah larang ekspor mentah. Dan China memanfaatkan peluang itu. Kita hanya bisa mengeluh.”

“Masalahnya dapatin modal gede itu engga gampang.“

“Kalau ada niat dan kamu kuasai pasar produk hilirnya, uang bukan masalah. Kuncinya kan pemasaran.”

Sumber: energyworld.co.id