Kabar Nikel Dampak Covid-19, Ifishdeco Siap Revisi Target Produksi dan Penjualan Bijih Nikel

Dampak Covid-19, Ifishdeco Siap Revisi Target Produksi dan Penjualan Bijih Nikel

, Estimasi Baca : 2 minutes
153
PT Ifishdeco bangun smelter nikel di Konawe Selatan/Merdeka.com

APNI, Jakarta – Pandemi virus corona telah membuat produksi dan penjualan nikel terhambat. Untuk memitigasi hal itu, salah satu emiten nikel, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) akan membuka opsi untuk merevisi target produksi di tahun ini. Hal ini akan dilakukan jika perusahaan tambang terdampak kren permintaan smelter menurun dan ESDM memberikan kesempatan merubah RKAB, maka Ifishdeco bisa manfaatkan revisi RKAB supaya target lebih realistis dan pemerintah melalui ESDM bisa mendapatkan informasi yang lebih realistis terkait performance industri pertambangan.

Sekretaris Perusahaan Ifishdeco Christo Pranoto mengungkapkan, produksi dan penjualan bijih atau ore nikel Ifishdeco pada kuartal pertama tidak secara signifikan terdampak efek gulir virus corona.

Menurutnya, adanya percepatan larangan ekspor ore nikel kadar rendah mulai 1 Januari 2020 telah melepaskan Ifishdeco dari ketergantungan terhadap pasar ekspor. Pasalnya pada tahun lalu, ekspor ore Ifishdeco hampir 100% dijual ke pasar China.

Dengan adanya larangan ekspor tersebut, Ifishdeco telah mengalihkan penjualan ekspor ke pasar lokal.

“Dengan penyetopan ekspor kami langsung menyiapkan pengalihan penjualan ke pasar lokal, karena dengan pandemi Covid-19, ekspor pasti terhenti,” kata Christo, Senin (23/3).

Hingga saat ini, produksi dan penjualan ore nikel masih bisa terjaga sesuai target karena Ifishdeco memiliki kontrak penjualan. Namun dengan adanya efek virus corona, bisa saja smelter di dalam negeri tidak berproduksi dengan kapasitas maksimal. Dengan begitu, smelter berpotensi untuk mengubah target produksi dan juga merevisi kontrak jual-beli ore nikel.

Jika pihak smelter menurunkan target produksinya, maka Ifishdeco pun akan ikut merevisi target produksi dan penjualan ore nikel di tahun ini. Christo menjelaskan bahwa hal ini akan dilakukan jika pemerintah memberikan kesempatan untuk merevisi RKAB, maka kesempatan tersebut akan dimanfaatkan Ifishdeco untuk melakukan revisi RKAB supaya target lebih realistis dan pemerintah melalui ESDM bisa mendapatkan informasi yang lebih realistis terkait performance industri pertambangan.

“Apabila kontrak jual beli bijih nekel direvisi oleh smelter lokal sebagai buyer, maka otomatis kami akan mengubah target, apabila perubahan tersebut dapat mengubah capaian dalam kurun waktu setahun ini, ini bisa dilakukan jika pemerintah memberikan kesempatan untuk merevii RKAB” jelasnya.

Dalam catatan Kontan.co.id, Ifishdeco mematok target produksi ore nikel sebanyak 2,3 juta di tahun ini. Dengan target tersebut, Ifishdeco membidik produksi ore sekitar 191.000 metrik ton per bulan.

Ifishdeco juga memproduksi produk turunan nikel berupa Nikel Pig Iron (NPI) yang diolah oleh anak usahanya, PT Bintang Smelter Indonesia (BSI). Melihat kondisi saat ini, Ifishdeco mengaku bakal kesulitan untuk memenuhi target 46.200 ton NPI hingga akhir tahun 2020. Sebab, pengerjaan fasilitas blast furnance smelter BSI terhambat virus corona.

Christo mengatakan, jika penanganan virus corona bisa diselesaikan di bulan Maret atau pada bulan April tenaga kerja dan peralatan dari China sudah bisa masuk ke Indonesia, maka pengerjaan fasilitas blast furnance ditarget rampung pada pertengahan Mei.

Dengan begitu, pada bulan Juni BSI bisa mulai menggenjot produksi NPI. Dalam perhitungannya, NPI yang bisa dihasilkan hingga akhir Desember 2020 kemungkinan hanya akan mencapai 29.400 ton.

Penurunan produksi dan penjualan ore nikel atau pun produk turunannya di dalam negeri memang telah diungkapkan oleh Asosiasi Penambangan Nikel Indonesia (APNI) dan Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I).

Hal senada juga disampaikan oleh praktisi tambang dan smelter Arif S. Tiammar. Di tengah kondisi ini, kata Arif, penurunan kapasitas produksi menjadi konsekuensi yang sulit untuk dihindarkan.

“Dengan demikian, produksi bijih nikel dan turunannya akan lebih kecil dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu,” sebut Arif.

Sumber: KONTAN