Kabar Nikel Dari Produksi 15,85 Juta Ton Bijih Nikel Baru Terserap Smelter Lokal 13,19...

Dari Produksi 15,85 Juta Ton Bijih Nikel Baru Terserap Smelter Lokal 13,19 Juta Ton

, Estimasi Baca : 2 minutes
46
Lokasi tambang nikel PT Vale Indonesia, Sorowako, Luwu Timur/ terkini.id

APNI, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatatkan produksi bijih (ore) nikel nasional pada periode semester I-2020 sebesar 15,85 juta ton. Dari jumlah tersebut, 13,19 juta ton atau sekitar 83,21% dari produksi di semester I sudah terserap di pasar dalam negeri

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak juga memaparkan produksi dan penjualan produk turunan dari bijih nikel tersebut. Dalam data yang disampaikannya, produksi feronikel pada paruh pertama tahun ini mencapai 666.696 ton.

“(Untuk penjualannya) ekspor sebesar 517.077 ton dan pasar domestik 177.462 ton,” sebut Yunus, Kamis (23/7/220).

Lebih lanjut, produksi nikel pig iron (NPI) pada Semester I-2020 mencapai 418.955 ton. Dari jumlah tersebut, 136.192 ton diserap oleh pasar ekspor dan sebanyak 175.700 ton ke pasar domestik. Sedangkan untuk produksi nikel matte pada Semester I sebesar 46.092 ton dan sebanyak 39.705 diserap oleh pasar ekspor.

Sebelumnya Yunus mengatakan, kapasitas produksi bijih nikel nasional bisa mencapai 60 juta ton dalam setahun. Dari jumlah tersebut, kapasitas input yang dapat diserap oleh smelter lokal baru mampu sekitar 30 juta ton.

Dari target 29 smelter nikel hingga tahun 2022, baru ada 11 smelter yang beroperasi sedangkan sisanya masih di tahap pembangunan. Adapun, bijih nikel yang diserap rata-rata yang berkadar 1,8%, atau dengan pencampuran antara bijih nikel kadar rendah 1,5%-1,6% dengan yang memiliki kandungan 2%.

Menurut Yunus, target pembangunan smelter hingga tahun 2022 bakal menambah kapasitas input, sehingga pengolahan bijih nikel bisa tertampung di dalam negeri. Termasuk dengan smelter yang dapat mengolah bijih nikel kadar rendah dengan kandungan 1,5%.

Kata dia, jika smelter-smelter tersebut bisa beroperasi, maka akan ada tambahan kapasitas input sekitar 29 juta ton. Jika ditotal dengan kapasitas yang ada sekarang, maka dapat menampung kapasitas produksi atau pasokan bijih nikel dari dalam negeri.

Merujuk data dari Ditjen Minerba Kementerian ESDM, realisasi produksi bijih nikel tahun lalu tercatat sebanyak 60,95 juta ton, meroket dari realisasi tahun 2018 yang hanya sebesar 22,14 juta ton. Ekspor bijih nikel pada tahun lalu juga tercatat naik menjadi 30,19 juta ton dibanding tahun 2018 yang sebanyak 20,07 juta ton.

Menurut Bambang Gatot Ariono, Dirjen Minerba Kementerian ESDM saat itu, kenaikan produksi dan ekspor bijih nikel di tahun lalu hanya situasional sebagai efek psikologis atas percepatan larangan ekspor bijih nikel kadar rendah. Sementara untuk tahun ini, Bambang memprediksi produksi bijih nikel akan kembali berkisar di angka sekitar 30 juta ton.

Sementara untuk produksi nikel olahan, realisasi produksi pada tahun 2019 juga meroket dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2018, realisasi produksi nikel olahan sebesar 857.166 ton sedangkan pada 2019 mencapai 1.786.400 ton. Adapun pada tahun ini, rencana produksi nikel olahan kembali naik di angka 2,02 juta ton.

Untuk produksi nikel matte, sejak tahun 2015 realisasinya terjaga di level 75.000 ton-78.000 ton. Namun pada tahun lalu realisasi produksi nikel matte lebih mini, yakni sebesar 71.000 ton. Sedangkan rencana produksi nikel matte di tahun ini sebesar 78.000 ton.

Sumber: KONTAN