Kabar Nikel Dibalik Mangkraknya Proyek Smelter PT. Antam

Dibalik Mangkraknya Proyek Smelter PT. Antam

, Estimasi Baca : 3 minutes
62
Pabrik Pengolahan Nikel PT ANTAM di Sulawesi Tenggara/Istimewa

APNI, Jakarta – Proyek smelter nikel milik PT Antam Tbk di Tanjung Buli, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, hingga kini belum beroperasi. Padahal pabrik pengolahan nikel menjadi feronikel yang digarap sejak 2012 itu harusnya sudah beroperasi pada 2019.

Salah satu penyebab mangkraknya proyek tersebut adalah belum tersedianya pasokan listrik. Padahal, seharusnya listrik tersebut disediakan PT BGP sebagai pemenang tender.

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, Orias Petrus Moedak, menyebut negara terancam rugi Rp 3,5 triliun di proyek smelter ini.

Sebab, proyek ini dibangun dengan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) Rp 3,5 triliun. Sebenarnya konstruksi fisik smelter sudah 97,98 persen dan siap beroperasi, tetapi tidak ada pasokan listrik.

“Harus secara gamblang disampaikan kalau proyek ini dilanjutkan lebih ke penyelamatan apa yang sudah di-spend (dikeluarkan). Karena ini dana dari PMN sekitar Rp 3,5 triliun, tetapi tidak bisa sampai tuntas karena listriknya tidak ada,” kata dia dalam rapat dengan Komisi VII DPR, Jakarta, Selasa (30/06/2020).

Siapa PT BGP di Proyek Smelter Antam?

Mengutip Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Pengelolaan Pendapatan, Biaya, dan Investasi pada PT Antam Tbk dan Anak Perusahaan Semester II Tahun 2016, 2017, dan Semester I 2018, disebutkan PT BGP yang dimaksud adalah PT Bima Golden Powerindo.

Dalam proyek ini, BGP bekerja sama dengan PT Diesel Energitama Perkasa. Mereka menamakannya sebagai Kerja Sama Operasi (KSO) BGP dalam mengadakan sewa Pembangkit Listrik Tenaga Diesel berbasis Marine Fuel Oil (PLTD MFO).

“Antam mengadakan perikatan sewa PLTD MFO 65 MW dengan Konsorsium PT Bima Golden Powerindo dan PT Diesel Energitama Perkasa (KSO BGP) berdasarkan kontrak nomor 455/924/DAT/2018 tanggal 3 Mei 2018 dengan nilai kontrak sebesar Rp 634.297.524.000,00, jangka waktu selama 5 tahun sejak tanggal 1 Oktober 2018 sampai dengan 30 September 2023,” demikian kumparan kutip, Minggu (12/07/2020).

Masuknya KSO BGP sebagai pemenang tender, karena kebutuhan daya listrik pada saat operasional pabrik yang diperkirakan sebanyak 65 MW, seharusnya dipasok dari Independent Power Plant (IPP) PLTU yang akan dioperasikan oleh Joint Venture Cooperation (JVCo) antara Antam dan PT Bukit Asam Tbk (Persero).

Namun, sampai dengan pemeriksaan berakhir Oktober 2018, IPP PLTU masih dalam proses pengkajian dan perundingan antara Antam dan PTBA.

Selama perundingan dan pembangunan PLTU tersebut, pemenuhan daya listrik direncanakan bersumber dari temporary power plant. Di sinilah KSO BGP masuk sebagai satu dari tiga perusahaan yang ikut tender.

Berdasarkan pernyataan Direktur Utama Antam, Dana Amin, dalam rapat dengan Orias Petrus dan Komisi VII, terhambatnya pasokan listrik yang dijanjikan KSO BGP karena di tengah jalan, PT BGP mengalami masalah keuangan dan tak dapat menyelesaikan proyek.

“Jadi sejumlah uang dari PMN dan kas dibangun smelter, sebagian pembangkit listrik melalui tender. Di tengah jalan, konsorsium swasta (BGP) mengalami masalah keuangan, kemudian Antam putuskan proyeknya (BGP) dibatalkan,” ujar Dana Amin.

Berdasarkan penelusuran, PT BGP didirikan pada 2 Desember 2002. Dalam situs resminya, perusahaan menyebutkan menjadi penyedia portofolio beragam solusi energi listrik di dunia pembangkit listrik.

Ditulis juga bahwa dalam profesionalisme dan keahlian komprehensif, BGP berkomitmen dalam memberikan nilai premium dan layanan kepada pelanggan dalam manajemen mesin dan manajemen pemeliharaan pembangkit listrik dan pengadaan barang dan jasa-terutama peralatan listrik, suku cadang mesin diesel, dan perangkat keras komputer.

“Namun, PT Bima Golden Powerindo, hingga saat ini memiliki kinerja standar tertinggi dan hubungan paling erat dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Bersama kami bekerja bersama untuk memastikan kami dapat mencapai target 400MW,” demikian keterangan dalam situs BGP.

Salah satu proyek eksklusif BGP dan PLN adalah memasok energi tenaga listrik lebih dari 12.000 kW ke PLTD Lueng Bata, Banda Aceh. Beberapa proyek lainnya berada di PLTD Matekko, Makassar.

Sedangkan mitra dalam KSO BGP, tak banyak informasi mengenai PT Diesel Energitama Perkasa. Dalam beberapa situs, disebutkan perusahaan ini sebagai penyedia jasa genset yang berlokasi di Pejaten Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Diesel Energitama Perkasa ini juga disebut bagian dari PT Berkat Manunggal Jaya yang merupakan pemegang eksklusif distributor mesin diesel dan genset Mitsubishi untuk Indonesia.

Sumber: kumparan.com