Kabar Nikel Harga Nikel Berpotensi Menguat di Semester Kedua 2020

Harga Nikel Berpotensi Menguat di Semester Kedua 2020

, Estimasi Baca : 2 minutes
6
Peleburan biji nikel di smelter milik Aneka Tambang di Pomalaa, Sulawesi Tenggara/REUTERS

APNI, Jakarta – Harga nikel bergerak naik perlahan setelah terjerembab akibat Covid-19. Meski berpeluang membaik di paruh kedua 2020, potensi lanjutan pelemahan masih ada.

Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga nikel anjlok dari kisaran USD 14 ribu per ton di awal tahun ke kisaran USD 11 ribu per ton pada Maret dan April. Harganya mulai merangkak naik perlahan hingga kini berada di kisaran USD 12 ribu seiring dengan penurunan jumlah kasus Covid-19.

Analisis Capital Future, Wahyu Laksono mengatakan perlemahan harga terpengaruh proyeksi surplus pasokan nikel di tengah pelemahan permintaan. Namun, Covid-19 membuat sejumlah produksi terhenti sehingga terjadi kontrol pasokan.

Dia memperkirakan harga nikel tak akan banyak berubah hingga akhir Juni, tapi mampu mencapai USD 15 ribu per ton di semester kedua nanti.

“Meskipun mendekati atau di atas USD 15 ribu per ton akan sangat rentan koreksi,” ujarnya, Minggu (21/06/2020).

Sentiment positif itu salah satunya dipicu pelonggaran pembatasan wilayah di sejumlah Negara setelah kasus penyebaran virus corona menurun.

Harapan dari kegiatan ekonomi yang mulai berjalan, menurut Wahyu, menahan laju pelemahan harga nikel di kisaran USD 11 ribu per ton.

Sentiment positif lainnya adalah proyeksi pengembangan kendaraan listrik. Setelah masa pandemi, permintaan kendaraan jenis tersebut diperkirakan meningkat, mengalahkan kebutuhan terhadap stainless steel. Meskipun beberapa analis, menurut dia, melihat ini hanya tren jangka pendek.

Wahyu menuturkan sentiment ini berdampak pada maraknya kegiatan akuisisi di industri tambang. Dia mencontohkan, pembelian sahan PT. Vale Indonesia, Tbk oleh holding badan usaha milik Negara (BUMN) tambang, Mining Industry Indonesia (MIND ID), di tengah pandemi. Emiten berkode INCO itu melepas 20 persen sahamnya kepada pemerintah sebagai syarat perpanjangan kontrak karya yang akan habis pada Desember 2025. saham itu dibeli dengan harapan dapat mendorong industri hilir nikel.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad memperkirakan industri nikel mampu bangkit kembali di semester kedua tahun ini. Pasalnya, pembatasan wilayah di sejumlah negara, terutama China sebagai tujuan ekspor Indonesia, telah dicabut.

Kegiatan ekonomi yang kembali hidup akan mendorong permintaan yang meningkat dan berdampak pada harga nikel. Tauhid memperkirakan harga mampu kembali mencapai kisaran USD 14 ribu per ton meski tak langsung.

“Kalau disbanding sejak Januari 2020, harga nikel sudah turun 10-15 persen.” Katanya.

Faktor lain yang mendukung pertumbuhan industri nikel ialah perkembangan pasar barang elektronik hingga kendaraan listrik.

Tauhid mencatat tren mobil listrik semakin meningkat dengan banyaknya insentif penggunaan kendaraan ramah lingkungan di beberapa Negara. Fenomena ini peluang besar bagi industri nikel untuk berkembang.

Namun perkembangan industri nikel sangat bergantung pada kondisi ekonomi setelah pandemi.

Penyebaran Covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi dunia terkoreksi. Jika Negara importer nikel mampu bangkit dengan cepat, industri nikel domestik pun akan terbantu.

Sumber: Koran Tempo