KEBIJAKAN PEMERINTAH Indonesia Bakal Punya 6 Smelter Nikel Dengan Teknologi HPAL Senilai Rp 76...

Indonesia Bakal Punya 6 Smelter Nikel Dengan Teknologi HPAL Senilai Rp 76 T

, Estimasi Baca : 2 minutes
56
Pabrik bahan baku pembuatan baterai mobil listrik yang tengah di bangun oleh Harita Nickel di Kawasi, Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara/malutpost.id

APNI, Jakarta – Indonesia bakal memiliki enam fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel dengan menggunakan proses hydro metalurgi atau dikenal dengan smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL).

Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif mengatakan smelter HPAL ini bisa menyerap bijih nikel kadar rendah yang cadangannya banyak di negara ini. Dia pun sempat menuturkan bahwa cadangan bijih nikel kadar tinggi (saprolite nickel) hanya sekitar 930 juta ton, seperempat dari bijih nikel kadar rendah (limonite nickel) yang mencapai 3,6 miliar ton.

Enam smelter HPAL tersebut antara lain dioperasikan oleh PT Halmahera Persada Legend, PT Adhikara Cipta Mulia, PT Smelter Nikel Indonesia, PT Vale Indonesia, PT Huayue, dan PT QMB. Selain smelter yang dibangun Vale, lima smelter lainnya ditargetkan mulai beroperasi pada 2021.

Dia mengatakan, rata-rata belanja modal per ton nikel sekitar US$ 19.000 per ton. Adapun total belanja modal atau investasi dari keenam smelter HPAL tersebut diperkirakan mencapai US$ 5,13 miliar atau sekitar Rp 75,9 triliun (asumsi kurs Rp 14.800 per US$).

“Proyek smelter HPAL merupakan proyek yang sensitif disebabkan nilai capex  (belanja modal) yang besar, bahkan lebih besar daripada RKEF (Rotary Kiln-Electric Furnace),” ujarnya dalam sebuah diskusi tentang nikel secara virtual pada Selasa (13/10/2020).

Menurutnya, investasi untuk smelter HPAL bisa mencapai US$ 65 ribu per ton nikel, sementara RKEF hanya US$ 13 ribu per ton nikel.

Selain itu, lanjutnya, Indonesia belum menguasai teknologi ini karena mayoritas dunia didominasi oleh penyedia teknologi dari Jepang seperti yang dimiliki Sumitomo dan Mitsubishi.

“Teknologi ini tergolong high tech, sehingga masih perlu bergantung dengan negara lain,” ujarnya.

Untuk itu, dalam pengoperasian smelter ini, menurutnya juga diperlukan pengalaman yang cukup, baik dari tahap membangun hingga mengoperasikan proyek smelter ini.

Kerumitan smelter ini bisa tercermin dari pengalaman proyek smelter HPAL di dunia, di mana dari 11 rencana smelter HPAL, hanya dua smelter yang suskes, dan sembilan lainnya gagal. Adapun dua smelter HPAL yang sukses tersebut antara lain proyek Coral Bay di Filipina, dan Moa Bay di Kuba. Adapun total investasi kedua smelter itu mencapai US$ 951 juta.

Sumber: CNBC Indonesia