Kabar Nikel Indonesia Mulai Serius Gali Potensi Logam Tanah Jarang Untuk Bahan Pembuatan Senjata

Indonesia Mulai Serius Gali Potensi Logam Tanah Jarang Untuk Bahan Pembuatan Senjata

, Estimasi Baca : 2 minutes
60
Mineral tanah jarang, ditunjukkan bersama dengan sebuah koin Amerika Serikat untuk perbandingan/Wikipedia.org

APNI, Jakarta – Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bersama Menhan Prabowo Subianto menyiapkan pengembangan pemanfaatan logam tanah jarang atau rare earth salah satunya untuk kepentingan produksi senjata. Hal ini tentu hal positif untuk menciptakan nilai tambah bagi Indonesia, daripada selama ini rare earth dimaksimalkan oleh negara lain termasuk Singapura.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana bakal melakukan survei untuk mengetahui potensi dari rare earth alias tanah jarang tahun depan.

Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Saleh Abdurrahman mengatakan rare earth sangat potensial salah satunya bisa digunakan untuk membuat chips.

“Itu baru survey tahun depan, itu potensial sekali. Kita bisa buat chips teknologi tinggi itu kan di-survey,” ungkapnya selepas Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Rabu, (08/07/2020).

Ia mengatakan kemungkinan rare earth bisa ditemukan di daerah yang menghasilkan timah, contohnya di Bangka Belitung. Indonesia diperkirakan punya cadangan besar rare earth.

“Pasti di daerah timah kayak Bangka Belitung, kemudian daerah yang bersenyawa dengan jebakan mineral,” jelasnya.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak menjelaskan soal rare earth sudah ada tiga yang diidentifikasi. Di antaraya monasit dari PT Timah Tbk, yang merupakan produk sampingnya.

Kedua, rare earth yang ada di bauksit bernama skandium. Ketiga, pada nikel yang sudah mulai dilakukan kajian.

“Kebijakan saya kira sudah difasilitasi oleh Kemenko Maritim. Harus ada arah kemana pohon industrinya. Jadi harus dari hulu ke hillir, yang penting adalah selamatkan monazit ini,” ungkapnya, Rabu, (8/07/2020).

Ia menyebut saat ini memang belum ada pengumpul monazit di Indonesia.

“Seharusnya ada badan pengumpul, mungkin akan ditunjuk BUMN. Pengumpul monazit daripada kemana-mana sedang dikoordinasikan Menko Maritim,” katanya.

Yunus mengatakan perlu duduk bersama dari sektor hulu sampai hilir, antara lain Kementerian ESDM sebagai hulu dan Kementerian Perindustrian sebagai hilir.

“Di tengah-tengah investasi oleh Menko Maritim dan Investasi dan badan usahanya,” ungkapnya.

Dirut PT Timah Riza Pahlevi mengatakan pihaknya saat ini tengah mengevaluasi dan akan menghitung besaran jumlah cadangan daripada rare earth.

“Lagi kita evaluasi kita siapkan, kita punya pilot project plan nanti kita lagi mulai lihat mau hitung jumlah cadangannya berapa. Nanti kita akan kembangkan ke skala komersial,” katanya saat ditemui selepas rapat dengar pendapat di Komisi VII DPR RI, Selasa, (30/06/2020) lalu.

Ia mengatakan saat ini masih dalam proses penelitian. Ia menegaskan nantinya akan dikaji teknologi yang akan digunakan.

“Teknologi yang akan kita pakai kemudian yang akan kita lihat lagi adalah jumlah cadangan supaya kita bisa mengembangkan secara komersial. Ya macam-macam dari kesehatan, industri strategis gitu,” jelasnya

Usulan penggunaan rare earth sebagai bahan pembuatan senjata merupakan hasil pembicaraan antara Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

“Kita dari tin (timah), kemarin saya bicara dengan Menhan (Menteri Pertahanan Prabowo Subianto}, tin itu kita juga bisa ekstrak, dari situ rare earth  (tanah jarang),” kata Luhut dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Senin (22/6/2020).

Sumber: CNBC Indonesia