Kabar Nikel Inkonsistensi Kebijakan Menimbulkan Resistensi Untuk Menarik Investasi Baru Di Industri Pertambangan

Inkonsistensi Kebijakan Menimbulkan Resistensi Untuk Menarik Investasi Baru Di Industri Pertambangan

, Estimasi Baca : < 1 minute
41
Kawasan Hutan lindung di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara yang berubah menjadi lahan tambang nikel/Dok. Walhi Sultra

APNI, Jakarta – Mahasiswa Program Studi Doktor Sains Manajemen Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Muhammad Hanafi, mengungkap hambatan dan tantangan industri pertambangan di Indonesia dalam menggenjot investasi.

Hal itu terangkum dalam disertasinya yang berjudul “A System Dynamics Model to Improve Competitive Advantage of Smelter Industry Investment In Indonesia”.

Dalam sidang promosi doktor yang digelar virtual, Senin 21 September 2020, Hanafi menggambarkan bagaimana pemberlakuan kebijakan kewajiban pembangunan industri smelter dalam UU Pertambangan, memengaruhi banyak perusahaan pertambahan di Indonesia.

“Peran pemerintah untuk memberlakukan larangan ekspor, insentif fiskal, dan kebijakan skema smelter independen, menyebabkan kebijakan ini sering dikoreksi sehingga menimbulkan resistensi untuk menarik investasi baru,” tutur Hanafi dalam rilisnya, Selasa 22 September 2020.

Untuk itu, ia menawarkan pengembangan model investasi industri smelter di Indonesia yang dapat membantu pembuat kebijakan merancang kebijakan untuk meningkatkan daya saing bangsa berdasarkan konsep diamond model oleh Michael Porter.

Hasil penelitiannya mengungkapkan, diamond model yang baru berpengaruh signifikan dalam meningkatkan daya saing investasi industri smelter di Indonesia.

Simulasi computer dengan model dinamika sistem merupakan kebijakan terbaik untuk meningkatkan daya saing smelter di Indonesia.

Kebijakan ini memberikan peningkatan yang signifikan baik dalam jumlah smelter maupun penerimaan negara dibandingkan dengan kebijakan saat ini.

“Faktor-faktor diamond model dan metode dalam penelitian ini dapat menjadi referensi dalam membuat strategi dan kebijakan, untuk meningkatkan keunggulan kompetitif investasi industri smelter di Indonesia,” ungkap dia.

Namun, penelitian ini terbatas pada industri smelter empat komoditas mineral utama yaitu tembaga, nikel, besi, dan alumina.

Penelitian selanjutnya diperlukan untuk menilai generalisasi model yang dikembangkan dalam daya saing smelter yang lebih global dengan komoditas mineral lainnya.

Selain itu, faktor industri pendukung perlu dianalisis dengan memasukan faktor dampak sosial dan lingkungan dari industri smelter.

Penelitian tersebut membawa Hanafi lulus dengan yudisium sangat memuaskan.

Sidang tersebut dihadiri tiga promotor yakni Prof Dermawan Wibisono, Prof Kuntoro Mangkusubroto, Manahan Siallagan. Serta diuji Meditya Wasesa, Nur Budi Mulyono, dan Tomy Perdana dari Unpad.

Sumber: jurnalgaya.pikiran-rakyat.com