NEWS NASIONAL Jepang Ikut Melirik Proyek Baterai Mobil Listrik Indonesia

Jepang Ikut Melirik Proyek Baterai Mobil Listrik Indonesia

, Estimasi Baca : 2 minutes
43
Pengaplikasian baterai pada mobil listrik Nissan Leaf/Wikipedia/H. Kashioka

APNI, Jakarta – Indonesia tengah dilirik investor luar negeri untuk proyek pabrik baterai listrik. Sebab, produk hilir ini menjadi prospek transportasi masa depan karena digunakan untuk mobil listrik.

Proyek ini dimotori oleh holding BUMN tambang, yaitu MIND ID di sisi hulu. Sedangkan di sisi hilir ada PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau disebut juga CEO MIND ID, Orias Petrus Moedak, mengatakan ada dua perusahaan luar negeri yang sudah menyatakan minatnya.

Dua perusahaan tersebut yaitu Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) dari China dan LG Chem Ltd asal Korea. Selain mereka, ada juga Jepang yang melirik Indonesia dalam proyek ini.

“Ada yang pendekatan, tapi belum sejauh Korea dan China. Kami lihat ada potensi sama Jepang,” kata Orias dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (15/10/2020).

Orias mengungkapkan, saat ini Indonesia dalam posisi didatangi perusahaan asing dalam proyek ini, karena potensi bisnisnya yang cukup besar.

Sebab, selain digunakan menjadi penggerak mobil listrik, baterai listrik ini juga bisa digunakan untuk sektor lain seperti pembangkit listrik tenaga matahari, yang sumber listriknya bisa disimpan dalam storage menggunakan baterai ini.

Secara komposisi, bahan baku baterai listrik ini mayoritas menggunakan 80 persen nikel yang pasokannya melimpah di Indonesia.

Selain itu ada cobalt dan lithium. Khusus lithium, Orias mengungkapkan akan mengimpornya dari luar negeri atau berinvestasi di negara yang menghasilkan lithium.

“MIND ID kemungkinan investasi di luar, tempat yang hasilkan lithium. Lithium impor, kami sudah lihat di beberapa negara,” ujarnya.

Untuk kerja sama dengan Korea dan China, investasi yang dibutuhkan mencapai USD 12 miliar hingga USD 20 miliar seperti yang pernah disebutkan Menteri BUMN Erick Thohir.

Menurut Orias, masalah porsi pendanaan dari masing-masing perusahaan tengah dibahas, berbarengan dengan pembentukan perusahaan patungan atau joint venture (JV).

Untuk modal yang dibutuhkan biasanya berasal dari ekuitas perusahaan dan utang dengan rasio 30:70. Menurut dia, tidak sulit mencari utang untuk proyek ini.

“Itu nilai proyeknya USD 12 miliar, nanti kami akan diberi tahu oleh tim, equity berapa dan pinjaman berapa. Equity kan biasanya 30:70. Jadi ya USD 3,6 miliar (dari ekuitas). Tapi kan mitranya banyak ya. Jadi ini enggak berat cari pinjamannya,” ujarnya.

Sumber: KUMPARAN.COM