NEWS INTERNATIONAL Khawatir Tidak Dapat Pasokan Nikel, Bos Tesla Tawarkan Kontrak Jumbo

Khawatir Tidak Dapat Pasokan Nikel, Bos Tesla Tawarkan Kontrak Jumbo

, Estimasi Baca : 6 minutes
88
Bos Tesla, Elon Musk, sedang memperkenalkan SUV terbaru, Model X.(noticiasautomotivas.com.)

Tesla menawarkan kontrak jumbo bagi produsen nikel. Sedangkan Indonesia saat ini menyumbang 27 persen produksi nikel dunia.

APNI, Jakarta – Elon Musk, bos Tesla, produsen mobil listrik terbesar saat ini mengungkapkan kekhawatirannya akan pasokan nikel. Untuk itu ia menawarkan kontrak jumbo bagi produsen yang mampu memproduksi sesuai kebutuhannya.

“Saya mohon produksi lebih banyak nikel. Tesla akan memberikan kontrak besar dan jangka panjang apabila Anda bisa memproduksi nikel secara efisien serta ramah lingkungan,” katanya, dikutip dari Bloomberg, Jumat (24/7/2020).

Permohonan Musk tersebut disampaikan seiring dengan langkah Sumitomo Corporation yang berencana membatalkan proyek investasi senilai US$500 juta pada proyek pertambangan nikel di Madagascar. Langkah ini dilakukan sebagai imbas dari harga nikel yang rendah dan dampak pandemi virus corona.

Sumitomo memiliki tambang nikel Ambatovy di Madagascar, salah satu proyek tambang nikel terbesar dunia. Pada kapasitas maksimumnya, tambang ini menghasilkan sekitar 5 persen dari total produksi global nikel kelas 1.

Namun, tambang tersebut berhenti beroperasi sejak Maret 2020. Potensi penghentian operasi yang lebih panjang dikhawatirkan akan membuat pasokan nikel untuk baterai mobil listrik kian tipis.

Harga nikel sepanjang tahun berjalan/Bloomberg.

Nikel merupakan komponen utama dalam baterai mobil listrik. Nikel merupakan salah satu komponen untuk memproduksi katoda. Bloomberg NEF memperkirakan jika produksi terus turun, dapat terjadi kekurangan pasokan nikel global pada 2023 karena di sisi lain, permintaan mobil listrik diprediksi tetap tumbuh.

Berdasarkan data Bloomberg, harga nikel di London Metal Exchange (LME) untuk kontrak 3 bulan menguat 4,21 persen ke level US$13.689 per ton. Namun, secara tahun berjalan harga nikel masih mengalami koreksi sebesar 2,4 persen.

Di antara komoditas logam dasar lainnya, nikel menempati posisi ketiga terburuk dari sisi performa sepanjang tahun berjalan. Pergerakan harga nikel hanya mengungguli komoditas aluminium dan lead, yang secara tahun berjalan masing-masing terkoreksi 6,02 persen dan 5,24 persen.

Padahal, pada September tahun lalu harga nikel sempat melonjak pada tahun lalu hingga mencapai kisaran US$18.000 per ton. Peningkatan harga nikel salah satunya didorong oleh proyeksi naiknya permintaan global atas baterai untuk kendaraan listrik kala itu.

Meski masih berfluktuasi, harga nikel mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Permintaan kian tinggi seiring meningkatnya prospek kebutuhan jangka panjang untuk baterai kendaraan listrik.

Penyebab kenaikan harga nikel lainnya adalah menipisnya sumber daya nikel di Filipina dan keputusan pemerintah Indonesia untuk mempercepat larangan ekspor bijih nikel. Larangan yang semula dicanangkan dimulai pada 2022, dipercepat menjadi Januari 2020.

Indonesia memiliki kontribusi sekitar 27 persen terhadap pasokan nikel global. Keputusan tersebut membuat banyak produsen berupaya mengamankan pasokan nikel lebih awal sehingga harganya menguat.

Salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia adalah PT Vale Indonesia Tbk. (INCO). Sepanjang paruh pertama tahun ini, perseroan memproduksi produksi nikel dalam matte INCO sebesar 36.315 ton. Tingkat produksi itu naik 18 persen dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu, sebesar 30.711 ton.

Pada tahun ini, perseroan menargetkan produksi nikel matte dapat mencapai angka yang sama dengan tahun lalu. Sepanjang 2019, Vale mencatatkan produksi nikel matte 71.025 ton, turun 5 persen daripada capaian produksi 2018 sebesar 74.806 ton.

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto menyatakan di tengah fluktuasi harga nikel pada tahun ini, perseroan berupaya menjaga margin laba dengan menjaga biaya dan mengoptimalisasi produksi.

“Kami mengimplementasikan Vale Production System, sebuah model  manajemen untuk meng-engage karyawan di semua level untuk melakukan continuous improvement secara terus menerus guna mencapai operational excellence,” jelasnya kepada Bisnis, Jumat (24/7/2020).

Dia menjelaskan secara umum industri nikel masih diliputi ketidakpastian. Pasalnya, saat ini harga nikel belum sepenuhnya pulih ke harga sebelum adanya pandemi Covid-19.

Proyek hulu-hilir oleh PT Aneka Tambang (persero) Tbk. (ANTM?/Dok. Pubex 2019

Menurutnya serapan nikel untuk produksi stainless steel masih mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, permintaan mobil listrik sebagai pendorong kenaikan harga nikel juga berada dalam tren yang sama.

Sementara itu, menurutnya pasokan tidak mengalami penurunan yang sejalan dengan permintaan. Hal ini mengakibatkan adanya surplus di pasar nikel dunia dan berimbas pada harga komoditas tersebut.

“Harga berada dalam kisaran US$13.000 per ton saat ini. Mudah-mudahan pandemi cepat berakhir, dan demand nikel bisa membaik sehingga pasar bisa lebih seimbang,” ujarnya.

Perseroan diketahui memiliki rencana untuk membangun smelter nikel di Pomalaa, Sulawesi Tengah dan smelter feronikel di Bahodopi, Sulawesi Tenggara. Masing-masing smelter ini diharapkan rampung pada 2025 dan 2024.

Proyek Pomalaa diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$2,5 miliar. Adapun, estimasi kebutuhan investasi untuk proyek Bahodopi diperkirakan akan menelan investasi senilai US$1,5 miliar.

Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) memproduksi feronikel sebanyak 6.447 ton nikel dalam feronikel (TNi) pada kuartal II/2020, naik 2 persen dari kuartal sebelumnya sebesar 6.315 TNi.

Adapun dari sisi penjualan, Antam mencatatkan pertumbuhan 11 persen terhadap kuartal pertama, menjadi 6.867 TNi untuk periode April- Juni 2020.

Secara kumulatif produksi Antam untuk komoditas feronikel mencapai 12.762 TNi dan penjualan sebesar 13.045 TNi sepanjang paruh pertama 2020. Capaian itu setara dengan 48 persen dari target.

Adapun, pada komoditas bijih nikel, perseroan mencatatkan pertumbuhan produksi 18 persen, dari 628  ribu wet metric ton (WMT) pada kuartal pertama, menjadi sebesar 745 ribu WMT pada kuartal II/2020.

Dari sisi penjualan, Antam membukukan penjualan bijih nikel sebesar 168.000 WMT pada kuartal II/2020, memperbaiki kinerja pada 3 bulan pertamanya yang gagal membukukan penjualan.

Dengan demikian, sepanjang paruh pertama tahun ini produksi bijih nikel perseroan mencapai 1,37 juta WMT dengan tingkat penjualan mencapai 168 ribu WMT.

Sepanjang paruh pertama, perseroan mencatatkan biaya tunai produksi feronikel sebesar US$3,33 per pon. Hal itu membuat poerseroan menjadi salah satu produsen feronikel global dengan biaya paling rendah.

Biaya tunai, tersebut berada di bawah rata-rata biaya tunai produksi feronikel global versi konsultan Wood Mackenzie yang mencapai kisaran US$4,85 per pon.

“Capaian ini memperlihatkan terjadinya penurunan biaya tunai perseroan sebesar 18 persen jika dibandingkan biaya tunai rerata unaudited feronikel Antam pada 2019 sebesar US$3,95 per pon,” kata SVP Corporate Secretary Antam Kunto Hendrapawoko kepada Bisnis, Jumat (24/7/2020).

Dia menjelaskan seiring membaiknya kondisi ekonomi global serta tumbuhnya tingkat permintaan nikel, perseroan optimis untuk dapat meningkatkan margin keuntungan dari bisnis nikel pada tahun ini.

Selain itu dia menyatakan perseroan melakukan adaptasi pasar khususnya di komoditas emas yang telah menunjukkan peningkatan transaksi pada periode April—Juni 2020.

Pada tahun ini, lanjutnya, perseroan berfokus untuk memaksimalkan produksi dan penjualan komoditas utama, yaitu nikel, emas dan bauksit.

Adapun, untuk komoditas feronikel, kapasitas produksi perseroan masih berada di kisaran 27.000 TNi. Kapasitas tersebut dihasilkan dari pengolahan di Pabrik Feronikel Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan catatan Bisnis, perseroan juga tengah membangun proyek Pabrik Feronikel di Halmahera Timur. Per April 2020, progress pembangunan pabrik itu sudah mencapai 97,96 persen dan diperkirakan dapat beroperasi penuh pada 2021.

Selain itu, dia menyampaikan bahwa perseroan sedang mengkaji rencana hilirisasi bijih nikel menjadi nikel sulfat untuk menangkap peluang kebutuhan baterai mobil listrik global. Dia menjelaskan, nikel sulfat merupakan salah satu bahan baku utama untuk produksi baterai kendaraan listrik.

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu menyatakan meski memiliki potensi besar, permintaan nikel untuk kebutuhan mobil listrik masih berandil kecil terhadap pasar nikel secara umum.

“Kami lebih melihat itu ke potensi jangka panjang. Baik itu ANTM maupun INCO, efek utama masih dari demand China dan itu mayoritas berasal dari industri stainless steel,” katanya kepada Bisnis, Jumat (24/7/2020).

Dia menjelaskan kontribusi utama pendapatan Antam sejauh ini masih didominasi oleh produksi emas. Namun demikian, menurutnya tak menutup kemungkinan bahwa feronikel akan menjadi kontributor pendapatan terbesar Antam di masa depan.

Sebelumnya, Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi menegaskan pemerintah tidak akan berkompromi terkait larangan ekspor bijih nikel. Pemerintah meminta seluruh pelaku usaha untuk mematuhi Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2020 tentang Tata Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral Logam dan Batubara.

Deputi VI Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto menyampaikan aturan tersebut dibuat untuk memberikan keadilan terhadap penambang dengan smelter.

“Pemerintah tidak akan berkompromi mengenai larangan ekspor bijih nikel. Hal itu merupakan amanat Undang-Undang. Keadilan harus ditegakkan baik kepada seluruh pelaku usaha, oleh karena itu kami minta semua pihak untuk patuh terhadap aturan,” katanya melalui keterangan resmi.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual menyatakan bahwa pandemi diperkirakan akan memengaruhi permintaan kendaraan listrik dalam jangka pendek. Hal ini juga akan memengaruhi permintaan terhadap nikel sebagai salah satu bahan baku untuk baterainya.

Namun, dia menyatakan dalam jangka panjang potensi kebutuhan itu akan tetap meningkat. Hal ini meurutnya akan menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran besar dalam industri kendaraan listrik.

Dalam jangka panjang, menurutnya, tak menutup kemungkinan produsen mobi llistrik akan masuk ke Indonesia. Selain memiliki nikel, Indonesia memiliki industri komponen dasar lainnya seperti pelat baja dan karet yang dapat menopang pertumbuhan industri tersebut di Tanah Air.

“Kalau pemerintah bisa memberikan insentif, harusnya kalau bisa menggaet pabrikan mobil listrik, maka investasi lainnya juga bisa ikut. Dari hulu ke hilir bisa dikembangkan, dan bahan dasarnya baterainya itu ada di kita,” katanya kepada Bisnis.

Sumber: BISNIS.COM