NEWS INTERNATIONAL Logam Dasar Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa di Wall Street, Nikel di...

Logam Dasar Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa di Wall Street, Nikel di LME Naik 2,8%

, Estimasi Baca : < 1 minute
107
Suasana di The London Metal Exchange/Istimewa

APNI, Jakarta – Harga logam dasar menguat, Selasa (11/02/2020), karena rekor penutupan tertinggi di Wall Street dan penurunan kasus baru coronavirus di China mengangkat sentimen.

Harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange melonjak 1,2% pada USD5.736 per ton pada pukul 13.27 WIB, demikian laporan Reuters, di Singapura, Selasa (11/2).

Sementara, logam dasar lainnya di kompleks LME juga menguat. Nikel melambung 2,8% menjadi USD13.250 per ton, seng melejit 1,7% menjadi USD2.170 per ton dan aluminium melesat 1,3% menjadi USD1.724,50 per ton.

Wall Street melesat, dengan indeks berbasis luas S&P 500 dan Nasdaq Composite Index ditutup pada level tertinggi sepanjang masa, Senin, ketika pekerja dan pabrik China perlahan-lahan kembali beraktivitas.

Menurut sumber industri, keperkasaan Wall Street mendorong bursa sekuritas China, sehingga sentimen meningkat.

“Saya akan mengatakan China berada di bawah kendali sekarang, atau dekat dengan itu. Pemerintah memiliki sejumlah langkah untuk memerangi wabah itu,” kata narasumber itu.

Untuk diketahui bahwa korban tewas akibat wabah virus korona di China daratan mencapai 1.000 orang, Selasa. Namun, jumlah kasus baru yang dikonfirmasi mencatatkan penurunan.

Kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange naik 0,3% menjadi 45.620 yuan (USD6.545,48) per ton, aluminium meningkat 0,9% menjadi 13.815 yuan per ton, nikel melonjak 1,7% menjadi 106.320 yuan per ton, sedangkan seng turun 0,2% menjadi 17.115 yuan per ton.

Pembukaan kembali beberapa pabrik di China juga memberikan dukungan, meski investor masih khawatir dengan lambatnya langkah untuk memulai kembali aktivitas.

Raksasa manufaktur Taiwan, Foxconn, yang memproduksi iPhone, produk andalan Apple, mendapat lampu hijau untuk membuka kembali dua pabrik utamanya di China yang ditutup karena wabah coronavirus  dan menargetkan bisa melanjutkan produksi meski hanya 10% dari tenaga kerja yang kembali, kata sebuah sumber.

Sumber: IPOTNEWS