Kabar Nikel Nikel, Komoditas Logam Industri Yang Paling Terdampak Pandemi Virus Corona

Nikel, Komoditas Logam Industri Yang Paling Terdampak Pandemi Virus Corona

, Estimasi Baca : 2 minutes
86
Peleburan biji nikel di smelter milik Aneka Tambang di Pomalaa, Sulawesi Tenggara/REUTERS

APNI, Jakarta – Nikel menjadi komoditas logam industri dengan kinerja yang paling buruk sepanjang satu semester kemarin. Merujuk Bloomberg, harga nikel di London Metal Exchange berada di level US$ 14.025 per metrik ton pada akhir tahun 2019. Lalu, pada akhir semester I-2020 kemarin turun ke level US$ 12.805 per metrik ton.

Dengan demikian, nikel tercatat mengalami penurunan sebesar 8,70% dalam enam bulan hingga Juni. Angka tersebut jauh lebih buruk bila dibandingkan dengan logam industri lainnya yang juga jeblok, tembaga terkoreksi 2,57% dan timah yang terkoreksi 2,64%.

Analis Central Capital Futures, Wahyu Tribowo Laksono mengungkapkan sebenarnya fundamental nikel memang sudah kurang baik ketika mengawali tahun ini imbas dari perang dagang China dan Amerika Serikat (AS). Ditambah lagi kemudian adanya persebaran virus corona semakin menekan harga nikel pada tahun ini.

“Saat itu nikel sempat terjun ke level US$ 10.800-an per metrik ton imbas pandemi virus corona. Namun di satu sisi, pandemi yang juga membuat supply dan demand sama-sama melemah, lalu didukung sentimen positif dibukanya, lockdown, sepertinya berhasil membuat harga nikel kembali rebound belakangan ini,” jelas Wahyu, Jumat (3/7/2020).

Wahyu menambahkan, beberapa kabar terbaru juga menjadi angin segar bagi komoditas nikel. Mulai dari, Vale selaku salah satu produsen nikel terbesar yang memangkas target produksinya dari 200.000 metrik ton-210.000 metrik ton menjadi hanya 180.000 metrik ton-195.000 metrik ton, hingga Sumitomo dari Jepang dan produsen nikel Filipina yang menutup operasional sebagian tambangnya.

“Di Indonesia sendiri, upaya asosiasi penambang nikel (APNI) yang  memintai Indonesia memperbolehkan ekspor bijih nikel juga ditolak. Kombinasi tersebut tentu semakin menekan supply nikel di tengah rendahnya permintaan, menjadikan katalis positif bagi harga nikel ke depan,” tambah Wahyu.

Dengan outlook nikel yang terlihat seimbang, Wahyu memperkirakan prospek nikel pada sisa tahun ini akan sedikit lebih baik dibanding semester sebelumnya. Menurut dia, setidaknya harga nikel tidak akan lagi anjlok dan cenderung konsolidasi.

Terlebih, secara jangka panjang, prospek nikel masih akan cukup cerah mengingat permintaan akan kendaraan listrik masih akan terus meninggi selepas pandemi virus corona. Hal inilah yang disebut Wahyu membuat ruang kenaikan harga nikel masih terbuka pada semester kedua ini.

“Jadi pada semester kedua, harga nikel masih terbuka untuk pelemahan baru, namun juga ada harapan untuk kenaikan. Sehingga kemungkinan rentang harga nikel akan ada di kisaran USD 10.000 per metrik ton sampai dengan USD 15.000 per metrik ton, namun mendekati level US$ 15.000 akan sangat rentan koreksi,” pungkas Wahyu.

Sumber: KONTAN