Kabar Nikel Prospek Harga Nikel

Prospek Harga Nikel

, Estimasi Baca : 2 minutes
61
Smelter PT Antam Tbk di Pomalaa, Sulawesi Tenggara/Liputan6.com

APNI, Jakarta – Kabar baik datang di pekan ini, pemerintah mengungkapkan kemungkinan dua perusahaan produsen baterai kendaraan listrik dunia yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) dan LG Chem Ltd akan berinvestasi sekitar US$ 20 miliar atau setara Rp 296 triliun (asumsi kurs Rp 14.800 per US$) di proyek baterai di Indonesia.

Bloomberg pada Rabu (14/10/2020) menuliskan, kedua perusahaan itu telah menandatangani perjanjian awal (Heads of Agreement) dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada bulan lalu guna menghasilkan nilai tambah dari produk nikel Antam.

Hal itu disampaikan Deputi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto kepada Bloomberg.

Dia mengatakan, investasi kedua perusahaan dunia itu akan mengembangkan bisnis industri pengolahan nikel menjadi komponen baterai kendaraan listrik.

Indonesia yang memiliki hampir seperempat dari cadangan nikel dunia dan ini merupakan kunci utama untuk mengembangkan mobil listrik, akan menggunakan kekayaan potensi nikel tersebut untuk membangun pabrik baterai di dalam negeri.

Harga nikel sendiri sempat merosot ke level terendah dalam 15 bulan terakhir pada bulan Maret lalu akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membuat permintaannya menurun.

Melansir data dari Investing, pada 23 Maret lalu harga benchmark nikel di London Metal Exchange menyentuh level US$ 10.887,5/metric ton, level tersebut merupakan yang terendah sejak 4 Januari 2019.

Namun setelahnya, harga nikel menanjak naik. Hari ini, Jumat (16/10/2020) berada di level US$ 15.602,5/metrik ton, meroket lebih dari 43% dari level terendah tersebut. Sementara jika dibandingkan posisi akhir tahun lalu atau secara year-to-date, nikel melesat lebih dari 11%.

Masa depan nikel juga terlihat cerah, meski sempat merosot di kuartal I-2020 lalu. Bank Dunia (World Bank) dalam Commodity Market Outlook edisi April lalu memberikan proyeksi nikel akan terus menanjak dalam jangka panjang.

Di tahun ini, rata-rata harga nikel memang diprediksi jatuh sekitar 17% ke US$ 11.617/metrik ton dari rata-rata harga tahun lalu. Tahun depan, rata-rata harga diprediksi US$ 11.932/metrik ton, naik 2,71% dari tahun ini.

World Bank memberikan proyeksi hingga tahun 2030 rata-rata harga nikel di US$ 15.182/metrik ton, atau naik lebih dari 30% dari rata-rata tahun ini.

Bos BHP Nickel West, Eddy Haegel, mengatakan ke depannya permintaan nikel akan mengalami lonjakan drastis menyusul revolusi energi yang akan terjadi di dunia.

“Kalian telah mendengar dari saya sebelumnya, kita di tahap awal revolusi yang akan mentranformasi dunia kita dan meningkatkan permintaan nikel. Sudah jelas nikel adalah pemenang saat dekarbonisasi dunia,” Kata Haegel, sebagaimana dikutip Livewire Markets, Jumat (16/8/2020).

“Nikel akan tetap menjadi juara, meski banyak logam atau kombinasi logam diuji membuat baterai lithium-ion, nikel tetap menjadi logam yang memberi kepadatan energi tertinggi. Hal ini menjadikan nikel memiliki masa depan yang cerah” tambahnya.

Haegal memprediksi permintaan nikel akan meningkat di akhir tahun ini. Sementara itu dalam 30 tahun ke depan, BHP Nickel West melihat permintaan nikel akan 250% lebih tinggi ketimbang 30 terakhir, bahkan bisa mencapai 350% ketika dunia semakin serius melakukan dekarbonisasi merespon pemanasan global.

Melihat prediksi tersebut, nikel bisa jadi investasi yang menarik. Di luar negeri investasi nikel bisa dilakukan melalui instrumen derivatif, tetapi untuk di Indonesia masih belum tersedia.

Sumber: CNBC Indonesia