Kabar Nikel Ratusan Warga Duduki Lahan Tambang PT. IWIP, Tuntut Hak Yang Belum Diselesaikan

Ratusan Warga Duduki Lahan Tambang PT. IWIP, Tuntut Hak Yang Belum Diselesaikan

, Estimasi Baca : 2 minutes
83
Ratusan warga berkumpul di jalan tambang PT. IWIP menuntut hak yang belum diselesaikan, Kamis (2/7/2020)/kumparan.com

APNI, Jakarta – Ratusan warga dari 4 Desa di kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur, Maluku Utara mendatangi tambang nikel di Kao Rahai. Keempat warga desa itu yakni Desa Nusa Jaya, Desa Ekor, Ekorino, dan Desa Inojaya.

Dari pantauan lapangan pada siang, Kamis (02/7/2020) sekira 450 warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Bersatu Lingkar Tambang Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur, berjalan kaki sejauh 74 km melewati perbukitan dengan membawa bendera Merah Putih dan spanduk protes yang ditujukan pada PT Weda Bay Nickel (PT WBN) dan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT IWIP).

Mereka mulai berjalan kaki sejak Selasa pagi (1/7/2020) dan kemudian bermalam dengan membuat tenda seadanya di dusun Topubuleleng, Halmahera Timur (Haltim). Pada Kamis (2/7/2020) pagi baru tiba di Kao Rahai.

Warga empat desa berniat menemui pihak manajemen PT WBN dan PT IWIP dan menyampaikan tuntutan mereka. Pada Kamis sore (2/7/2020), warga 4 desa baru bisa melakukan pertemuan dengan pihak perusahan. Dalam pertemuan itu, belum ada titik temu.

Hingga malam tadi, warga masih menduduki lokasi tambang, tepatnya di jalan menuju lokasi pengambil bijih nikel milik PT IWIP. mereka pun mendirikan tenda dan tidur di tengah jalan itu.

“Kami sangat kecewa mau bertemu dengan manejemen (PT IWIP) tapi manejemen tidak mau menemui dan hanya diwakili,” ungkap Koordinator Lapangan, Ruslan Hi Idris.

Menurut Ruslan, dari lahan sekira 200 hektar milik masyarakat yang dikapling untuk dijadikan lokasi tambang, yang dibayar pihak perusahan baru sekira 80 hektar.

“Sisa 120 hektar dibayar kemana? kami minta transparan tentang pembayaran lahan, apalagi lahan tersebut milik masyarakat Wasile Selatan, Haltim bukan masyarakat Halteng (Halmahera Tengah),” kata Ruslan.

“Kami sudah jauh datang dari kampung dan melakukan perjalanan selama dua hari, kalau perusahaan menganggap enteng. Kami boikot aktivitas sampai tuntutan kami direalisasi,” tegas Ruslan.

Amatan dilokasi kilo meter 30 di jalan Akeman Karohae, massa mendirikan tenda di tengah jalan, sehingga aktivitas pengambilan dan mengangkutan ore atau biji nikel terhenti. Aparat dari Polres Halmahera Tengah, Brimob Polda Maluku Utara, anggota TNI dari Koramil Weda, Satgas, Kodim persiapan serta sekuriti perusahaan masih melakukan pengamanan dan situasi masih aman terkendali.

Sementara itu, Humas PT IWIP, Agnes Megawati ketika dihubungi, mengaku pihaknya belum menerima tuntutan warga secara tertulis. Namun, Agnes mengaku akan tetap mendengar aspirasi warga.

“Kita tunggu saja bagaimana nanti aspirasi warga dan kami akan usahakan penyelesaian yang sebaik-baiknya, baik untuk warga maupun perusahaan,” kata Agnes.

“Saat ini tanggapan kami seperti ini ya, kami dengarkan dulu dan akan upayakan solusinya,” tutup Agnes.

Sumber: kumparan.com