Kabar Nikel Setelah Naik Hampir 12 Persen, Harga Nikel Masih Berpeluang Meningkat Hingga Akhir...

Setelah Naik Hampir 12 Persen, Harga Nikel Masih Berpeluang Meningkat Hingga Akhir Tahun 2020

, Estimasi Baca : 3 minutes
122
Aktivitas pengangkutan ore nikel ke kapal tongkang di salah satu perusahaan pertambangan di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara/ANTARA

APNI, Jakarta – Pemulihan ekonomi di China dan prospek kenaikan permintaan akan menjadi katalis positif yang mengerek naik harga nikel di sisa tahun 2020.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada Selasa (20/10/2020), harga nikel terpantau naik 0,2 persen ke US$15.684 per ton pada London Metal Exchange. Sedangkan, secara year to date (ytd), harga nikel telah melesat 11,83 persen.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, harga nikel masih berpeluang menguat di sisa tahun 2020. Hal tersebut didukung oleh pemulihan ekonomi di China yang terus berjalan. Rilis data perekonomian pada Senin kemarin menunjukkan upaya pemerintah China menekan kasus positif virus corona terbukti ampuh.

“Kinerja ekonomi China yang positif pada kuartal III/2020 mengindikasikan pemulihan yang berkelanjutan,” katanya saat dihubungi pada Selasa (20/10/2020).

Pulihnya China dari dampak negatif pandemi juga berarti kelanjutan pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang sempat tertunda. Pengerjaan proyek tersebut akan berdampak pada kenaikan permintaan terhadap nikel.

Pengerjaan proyek tersebut juga ditambah dengan rencana Presiden China, Xi Jinping yang hendak menjadikan Shenzhen sebagai pusat teknologi dunia. Dengan rencana pembagunan yang masif, permintaan terhadap nikel pun akan meroket ke depannya.

“Pembangunan infrastruktur ini juga akan dikebut, terutama untuk proyek-proyek di tahun 2020 yang tertunda,” imbuhnya.

Selain itu, sentimen stimulus fiskal dari Amerika Serikat juga akan berperan terhadap pergerakan harga komoditas ini. Ia menjelaskan, apabila paket stimulus berhasil disahkan, hal tersebut akan berdampak pada bertambahnya peredaran uang.

Hal tersebut, lanjutnya, akan berimbas pada pelemahan indeks dolar dan menguatkan nilai-nilai komoditas seperti nikel sebagai lawan dari dolar AS.

Ibrahim melanjutkan, prospek kenaikan harga nikel juga kian diperkuat dengan popularitas mobil listrik yang semakin baik. Sebagai bahan baku baterai yang merupakan sumber tenaga mobil listrik, hal ini akan mengerek permintaan nikel di pasar global.

“Apalagi, di tengah pandemi ini banyak pihak yang menggaungkan rencana pengembangan mobil listrik. Ini akan membuat nikel semakin dicari,” katanya.

Ia menambahkan, negosiasi antara Inggris dengan Uni Eropa terkait perjanjian perpisahan kedua pihak yang belum rampung akan sangat menentukan pergerakan harga nikel dalam beberapa waktu ke depan.

Senada, Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan peluang kenaikan harga nikel masih terbuka. Ia mengatakan, pada kuartal I/2020 harga nikel mengalami koreksi mendekati 20 persen seiring dengan sejumlah sentimen risk off.

Meski demikian, dalam dua kuartal terakhir, harga nikel terus mengalami kenaikan double digit. Kenaikan ini pun juga dialami oleh komoditas logam dasar lainnya seperti tembaga.

Salah satu faktor pendukung reli harga nikel adalah kenaikan permintaan baterai dan baja tahan karat yang berbahan dasar nikel. Permintaan baterai juga diperkirakan akan semakin tinggi seiring dengan pengembangan mobil listrik yang dilakukan.

Selain itu, kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) juga akan menentukan pergerakan harga nikel.

Wahyu menjelaskan, saat ini kebijakan yang diambil oleh The Fed masih mendukung kenaikan harga komoditas. The Fed menggunakan target rata-rata inflasi yang diperoleh dapat melewati 2 persen tanpa harus mengubah kebijakannya.

Kebijakan tersebut, ujar Wahyu, sangat akomodatif dan dapat memicu pelemahan dolar AS serta menguatkan lawan dolar AS seperti mata uang lain dan komoditas seperti nikel. Kondisi-kondisi tersebut mengarah kepada skenario yang mendukung terjadinya reflationary trade.

“Dalam jangka pendek, harga nikel masih bisa koreksi atau fluktuasi. Namun dalam jangka menengah dan panjang, nikel masih menjadi salah satu komdoitas yang terdepan dan menjanjikan,” ujarnya.

Wahyu menambahkan, isu pandemi virus corona masih menjadi ancaman untuk harga komoditas logam. Namun, menurutnya saat ini kepastian di pasar kian membaik seiring dengan tren harga komoditas logam lain seperti tembaga.

“Tren harga tembaga yang bagus akan jadi lokomotif utama bagi komoditas logam dasar, khususnya nikel,” paparnya.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan dalam risetnya menyebutkan, harga nikel kemungkinan akan mengalami kenaikan dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini terjadi seiring dengan penurunan jumlah persediaan komoditas tersebut.

Dalam laporannya, ia memperkirakan jumlah persediaan nikel pada inventori LME akan lebih renddah pada pekan ini. Adapun total persediaan nikel pada minggu lalu naik dari 236.070 ton menjadi 237.390 ton.

Sentimen kenaikan harga nikel juga ditopang oleh turunnya jumlah persediaan tembaga milik LME. Hal tersebut, lanjutnya akan memunculkan upside risk bagi harga nikel global karena berkaitan erat dengan harga komoditas logam lain seperti tembaga.

Andy melanjutkan, katalis lain yang akan memberikan dampak positif bagi harga nikel adalah impor yang dilakukan China. Data impor tembaga China menunjukkan adanya kenaikan 8,1 persen secara month-to-month menjadi 722.450 ton. Kenaikan ini dinilai akan berdampak positif bagi pergerakan harga nikel.

“Dengan sejumlah katalis positif, harga nikel di pasar global diperkirakan akan menarik pelaku pasar,” ujarnya.

Sumber: BISNIS.COM