KEBIJAKAN PEMERINTAH Setelah Nikel dan Batubara, Pemerintah Akan Genjot Hilirisasi Tembaga

Setelah Nikel dan Batubara, Pemerintah Akan Genjot Hilirisasi Tembaga

, Estimasi Baca : 2 minutes
38
Suasana tambang di Freeport Indonesia/Istimewa
Kebutuhan tembaga global saat ini sangat tinggi, terutama untuk produk elektronik dan konstruksi bangunan. Konsumsinya diperkirakan akan meningkat 14% pada 2025.

APNI, Jakarta – Pemerintah akan fokus menggenjot hilirisasi tembaga. Hal ini bertujuan untuk memberi nilai tambah komoditas tambang itu dan meningkatkan penerimaan negara.

Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara, Irwandy Arif, mengatakan jika pertumbuhan pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Asia sendiri cukup besar. Namun, hal itu tidak terjadi di Indonesia.

Saat ini baru dua smelter tembaga yang sudah berjalan. Untuk nikel jumlahnya sampai dengan 2018 ada 17 unit. “Konsep nilai tambah akan bergerak ke pengembangan industri hilir dan merangkak ke ketahanan nasional,” kata dia dalam webinar, Rabu (14/10).


Kebutuhan tembaga global saat ini sangat tinggi, terutama untuk produk elektronik dan konstruksi bangunan. Konsumsinya diperkirakan akan meningkat 14% pada 2025. Hal ini pun seiring dengan berkembangnya kendaraan listrik, baterai, dan energi terbarukan yang memakai tembaga.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono menyampaikan rencana hilirisasi dan penambahan smelter akan mendorong pengembangan mobil listrik. Tak hanya nikel, electric vehicle (EV) juga memerlukan tembaga untuk pembuatan kabel.

“Jika dikaitkan dengan hilirisasi, tentunya ketahanan sumber daya dan cadangan tembaga perlu diperkuat,” kata dia.

Total sumberdaya bijih tembaga yang dimiliki Indonesia saat ini mencapai 15,1 miliar ton dengan cadangan bijih tembaga sebesar 2,6 miliar ton. Konsumsi tembaga dalam 15 tahun terakhir meningkat tapi cadangannya menurun. Karena itu, perlu upaya besar untuk meningkatkan cadangannya. Salah satunya dengan meningkatkan kegiatan ekplorasi.

Saat ini terdapat 97 lokasi cebakan atau galian tambang yang berpotensi memiliki sumber daya atau cadangan tembaga yang terletak di 17 provinsi di Indonesia. Cebakan tembaga tersebut berlokasi di hampir semua jalur busur magmatik Sunda Banda, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera dan Papua.

Smelter Tembaga Freeport

Salah satu perusahaan yang berencana membangun smelter tembaga adalah PT Freeport Indonesia. Namun, operasional pabrik pemurnian mineral di Gresik, Jawa Timur itu kemungkinan tertunda satu tahun ke 2024 karena terdampak pandemi Covid-19.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, penundaan terpaksa dilakukan karena pandemi corona telah menghambat jalannya proyek.

“Kami belum dapat jawaban dari pemerintah ditolak atau diterima,” ujar dia dalam diskusi secara virtual pada awal September lalu.

Hambatan utamanya adalah kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut terkena kebijakan pembatasan wilayah sehingga tidak bisa bekerja maksimal. Freeport memastikan pekerjaan visibility study, early work, dan front end engineering design (FEED) tetap berjalan.

Tony sebelumnya menyebut pembangunan smelter bukanlah proyek yang menguntungkan bagi perusahaan. Pasalnya, nilai tambah harga jual dari konsentrat tembaga menjadi katoda hanya 5%. Namun, pihaknya tetap berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan proyek smelter sesuai Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang pertambangan mineral dan batu bara (minerba).

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Tak Hanya Nikel, Pemerintah Akan Genjot Hilirisasi Tembaga