Kabar Nikel Tantangan Sektor Minerba Hadapi Resolusi Industri 4.0

Tantangan Sektor Minerba Hadapi Resolusi Industri 4.0

, Estimasi Baca : 2 minutes
Ilustrasi pertambangan nikel/Reuters

APNI, Jakarta – Bidang usaha mineral dan batu bara (Minerba) menghadapi tantangan besar dalam era industri 4.0. Pertama, greenfield eksploration. Kedua, peningkatan nilai tambah mineral, khususnya tembaga, logam tanah jarang, mangan, dan logam untuk industri baterai mobil listrik. Ketiga, peningkatan nilai tambah batu bara. keempat, transformasi ke mining 4.0.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak menerangkan, minimnya greenfield eksploration bahwa dalam 10 tahun terakhir, Indonesia tidak menemukan cadangan kelas dunia. Hal ini disebabkan oleh investor yang lebih suka menanamkan investasinya di Peru dan Chili.

Lalu biaya eksplroasi Indonesia hanya berkontribusi 1% dari biaya eksplorasi dunia.

“Biaya ekplorasi dunia US$ 100 miliar, kita hanya dapat US$ 100 juta lah bisa kontribusi ke Indonesia. Kemudian hambatan lain adalah karena regulasi kita tumpang tindih dengan sektor lain,” ungkapnya yang disampaikan pada acara Rapat koordinasi Bidang III Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) secara virtual melalui aplikasi Zoom, Rabu, (20/05/2020).

Pada acara yang mengambil tema “Peluang Dan Tantangan Pengusaha Muda Dimasa Pandemi” tersebut Yunus saefulhak memberikan materi dengan judul Tantangan dan Peluang Sektor Mineral dan batubara.

Lebih lanjut Yunus mengatakan perlu dukungan kegiatan eksplorasi oleh junior mining company. Setelah data didapatkan oleh junior mining company, maka IUP dapat diteruskan kepada pihak lain yang memiliki kompetensi dalam melakukan kegiatan pertambangan, pengolahan, dan/atau pemurnian.

“Juga ada penugasan pada swasta eksplorasi pada wilayah baru. Penugasan ini istimewa tanpa ada lelang, izin dikerjakan langsung. Junior company diberikan kesempatan yang sama,” jelasnya.

Yunus menerangkan, Indonesia memiliki sumber daya batu bara sebesar 149 miliar ton dan cadangan sebesar 37,6 miliar ton. Sumber daya batu bara berdasarkan nilai kalori yakni didominasi medium rank sebesar 59% disusul low rank sebsar 31%. Disusul high rank 7% dan very high rank 3%.

Kemudian cadangan Nikel Indonesia sebesar 23,67% dari dunia, di mana Indonesia menjadi nomor satu, selanjutnya disusul Australia sebesar 22,55%. Sehingga pemanfaatan Nikel kadar rendah menjadi prioritas dengan program kendaraan listrik.

Terkait peningkatan nilai tambah, Yunus menjelaskan mobil listrik akan menjadi pangsa pasar tahun 2025, bahkan Indonesia digadang-gadang akan ada 20% pengguna mobil listrik pada tahun 2025. “HPAL sedang dibuat,” paparnya.

Selanjutnya pada komoditas tembaga Amerika Utara dan Selatan mempunyai sumber daya tembaga terbesar di dunia, kawasan Asia Tenggara hanya 6% dari sumber daya dunia. Cadangan tembaga Indonesia termasuk 10 besar dunia, artinya Indonesia berperan penting dalam penyediaan bahan baku tembaga dunia.

“Tembaga dari bikin tembaga untuk jadi konsentrat tembaha 93% peningkatan, selebihnya 7% jadi katoda tembaga. Katoda tembaga sekarang di Smelting Gresik,” paparnya.

Yunus menegaskan, Kementerian ESDM membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pihak swasta yang akan melakukan kegiatan eksplorasi melalui pemberian kesempatan kepada junior mining company. Indonesia punya keunggulan komparatif sumber daya alam mineral nikel dan tembaga yang dapat dikembangkan menuju kemandirian industri EV battery demi mendukung kendaraan listrik.

Selain Yunus, Rakor Bidang III HIMPI juga menghadirkan narasumber Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih yang membawakan materi Gerakan #Bangga Buatan Indonesia : Solusi IKM di Tengah Pandemi Covid-19

Sumber: CNBC Indonesia