NEWS NASIONAL Terdampak Covid-19, PT. Timah Nyungsep – Penjualan Nikel Hanya Rp 37,73 Miliar

Terdampak Covid-19, PT. Timah Nyungsep – Penjualan Nikel Hanya Rp 37,73 Miliar

, Estimasi Baca : 2 minutes
61
Gedung PT. Timah, Tbk di Jl. Merdeka Timur Jakarta Pusat/Dok. PT. Timah

APNI, Jakarta – PT Timah Tbk (TINS) membukukan rugi bersih Rp 390,07 miliar di semester pertama. Angka tersebut membengkak bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu berhasil membukukan laba bersih Rp 205,29 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di Jakarta, Senin (3/8/2020).

Kinerja kurang mumpuni TINS juga terlihat dari pendapatannya yang turun 18,48% secara tahunan (yoy) di semester I-2020. Kala itu, pendapatan dari produsen timah terbesar di Indonesia ini hanya Rp 7,97 triliun di akhir Juni 2020, dari sebelumnya Rp 9,78 triliun. Jika dirinci, 95% atau Rp 7,6 triliun dari pendapatan TINS merupakan hasil penjualan ke pasar ekspor. Sementara sisanya yakni Rp 340,96 miliar merupakan penjualan ke pasar dalam negeri.

Bila dirinci berdasarkan jenis penjualan, maka pendapatan PT. Timah didominasi oleh hasil penjualan timah yakni senilai Rp 7,53 triliun atau setara 94% dari total pendapatan perusahaan. Disusul penjualan tin chemical dengan nilai pendapatan Rp 194,82 miliar, dan pendapatan dari bisnis rumah sakit senilai Rp 112,69 miliar. TINS juga membukukan pendapatan dari penjualan tin solder senilai Rp 52,83 miliar, penjualan nikel senilai Rp 37,73 miliar, dan pendapatan dari jasa galangan kapal senilai Rp 10,36 miliar.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan perseroan pun turun 13,46% menjadi Rp 7,73 triliun di enam bulan pertama 2020. Beban lainnya yang terpantau turun adalah beban umum dan administrasi yang turun menjadi Rp 384,76 miliar dari sebelumnya Rp 481,31 miliar di semester I-2019. Namun, sejumlah beban juga mengalami kenaikan. Beban penjualan naik 34,38% menjadi Rp 93,77 miliar dan beban keuangan naik 16,7% menjadi Rp 387,95 miliar.

TINS juga membukukan pendapatan lain-lain senilai Rp 183,93 miliar, yang utamanya disumbang oleh keuntungan atas selisih kurs senilai Rp 128,4 miliar. Per 30 Juni 2020, jumlah aset TINS sebesar Rp 18,39 triliun. Jumlah ini terdiri atas liabilitas senilai Rp 13,58 triliun dan ekuitas senilai Rp 4,81 triliun. Adapun jumlah kas dan setara kas TINS sebesar Rp 1,0 triliun, turun dari posisi per Desember 2019 yang mencapai Rp 1,59 triliun.

Tertekannya kinerja keuangan, mendorong perseroan melakukan strategi efisiensi akibat pandemi Covid-19. Abdullah Umar Baswedan, Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk pernah bilang, perseroan akan melakukan sejumlah strategi efisiensi untuk beradaptasi di tengah perubahan pasar akibat pandemi Covid-19. Di antaranya, TINS akan memangkas biaya operasional atau operational expenditure (opex) sampai dengan 30%. Sementara itu, penggunaan belanja modal atau capital expenditure (capex) diprioritaskan kepada yang mendukung pencapaian target produksi.

Tahun ini perseroan mengalokasikan capex Rp 1,5 triliun. Jumlah ini lebih rendah dari alokasi sebelumnya yang mencapai Rp 2 triliun. Kemudian turunnya produksi bijih timah membuka opsi untuk merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun ini. Meski demikian, Umar mengaku belum bisa membeberkan lebih lanjut ihwal target produksi dan penjualan TINS untuk tahun ini.

Sumber: neraca.co.id