NEWS NASIONAL Tesla Berminat Bangun Industri Baterai Lithium di RI

Tesla Berminat Bangun Industri Baterai Lithium di RI

, Estimasi Baca : 2 minutes
49
Ilustrasi baterai pada mobil listrik yang dikemas dalam komponen yang aman/electrec.co

APNI, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan banyak pemodal yang berminat menanamkan duitnya di Indonesia. Dia mengaku baru saja dihubungi oleh perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Tesla, yang menaruh minat untuk berinvestasi di Tanah Air.

“Saya tadi baru ditelepon Tesla di Amerika mereka, juga berminat membangun lithium battery di Indonesia karena mereka melihat Indonesia memiliki cadangan nikel ore terbesar di dunia,” ujar dia dalam siaran langsung, Rabu, 9 September 2020.

Menurut Luhut, Tesla menanyakan apakah cadangan nikerl di Tanah Air akan cukup untuk dikembangkan menjadi industri baterai lithium. Ia lantas menjawabnya dengan mengajak perusahaan milik Elon Musk itu agar menanamkan uangnya di Indonesia.

Luhut mengatakan saat ini Indonesia telah berubah dari negara yang berbasiskan komoditas menjadi negara berbasis hilirisasi. Transformasi tersebut, menurut dia, akan membawa Indonesia menjadi negara yang hebat dan masuk kedalam rantai pasok dunia.

“kita bisa menjadi negara industrialisasi ke depan karena kita begitu kaya dengan sumber daya yang terus kita olah menjadi ada turunannya,” ujar Luhut. Karena itu, ia pun mengajak semua pihak agar mendukung dan kompak dengan rencana tersebut.

Terkait nikel, Luhut dalam beberapa kesempatan sempat menyampaikan keuntungan yang akan diraup Tanah Air apabila meneruskan program hilirisasi ini. Sebelumnya, ia memprediksi program hilirisasi nikel yang dijalankan pemerintah akan menyumbang penerimaan negara hingga US$ 10 miliar dari hasil ekspor.

“Dengan hilirisasi, paling tidak sudah menyumbang tahun ini (2020) perkiraan kami US$ 10 miliar. Kemudian Pariwisata kami harap juga bisa me-rebound kalau bisa naik berapa persen juga akan berdampak ke (ekonomi) kita,” ujarnya dalam Webinar bertajuk Investasi di tengah Pandemi, Sabtu, 25 Juli 2020.

Dia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia tengah berfokus untuk menyasar program hilirisasi hasil pertambangan. Menurut dia, hilirisasi hasil pertambangan akan menjadi program berlanjutan yang dibutuhkan oleh generasi muda ke depan.

Dia mengungkapkan telah menyampaikan potensi hilirisasi kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi. “Saya lapor presiden bahwa kita harus tahu turunannya. pasti orang enggak suka, tetapi selang beberapa tahun mereka pasti mensyukuri bapak [Jokowi] telah buat ini’,”ungkap Luhut.

Dia mencontohkan nilai ekspor nikel Indonesia sebesar US$ 612 juta per tahun. Namun, nilainya kini bertambah hingga US$ 6,24 miliar. Pasalnya, nikel tersebut telah diolah menjadi stainless steel slab.

Sementara itu, dia melihat bahwa era pengembangan mobil listrik di Indonesia perlahan mulai tampak. Pasokan baterai menjadi isu utama pengembangan kendaraan listrik. Luhut berambisi di masa mendatang Indonesia menjadi negara terpandang karena lantaran menjadi negara produsen baterai litium terbesar di dunia.

“Baterai ini karena kita memiliki cadangan terbesar kualitasnya nikel ore kita akan menjadi pemain dan utama dari baterai ini. [baterai] Itu pada 2030 di eropa sudah tidak ada lagi mobil fosil, semua harus litium baterai, itu kan tinggal 10 tahun lagi dari sekarang,” ujarnya.

Sumber: tempo.co